Lampung Timur – Tari tradisional merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat secara turun temurun sejak zaman dahulu. Dalam pelestariannya dibutuhkan dukungan masyarakat akan kesadaraan untuk melestarikan budaya. Melalui hobi dan kecintaan budaya, masyarakat dapat berkumpul untuk melestarikan tari melalui sanggar kebudayaan.

Aprizal Mirzha salah satu pemuda sukadana Lampung Timur yang melestarikan kesenian tari melalui sanggar Kenui Tumbay. Sanggar yang terbentuk dari hobinya melestarikan budaya tari pada tahun 2017, merupakan sanggar yang berdiri secara mandiri untuk mengumpulkan dan membimbing para pemuda-pemuda mulai dari sekolah dasar hingga menengah atas.

Sudah ada 70 lebih peserta yang berlatih di sanggar ini dan berbagai prestasi sudah diraih baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Mulai dari Juara Tari Festival Way Kambas, Lampung Timur 2017-2019, Festival Bumi Tuah Bepadan Lampung Timur 2018, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2015-2020, Pekan Raya Lampung 2019, dan masih banyak lagi.
Sanggar Tari yang berlokasi di Sukadana ini, mengajar pesertanya untuk bisa melestarikan tari khas daerah Lampung seperti tari melinting, tari cangget, tari sembah dan tari bedana. Tidak hanya mengajarkan tari khas Lampung, sanggar ini juga mengajarkan peserta didiknya untuk mengenal tarian nusantara seperti tarian daerah Papua, suku Batak, minangkabau, betawi, sumatra selatan dan banyak lainnya.

Selain berpartisipasi dalam setiap perlombaan menari, sanggar Kenui Tumbay juga mengajak pesertanya untuk aktif melestarikan kebudayaan tariannya melalui acara-acara adat seperti acara pernikahan, khitanan, adat begawi Lampung (pepadun), acara peresmian, promosi wisata dan sabagainya.

Aprizal mengatakan sanggar olahan yang dibangunnya ini diakuinya masih mengandalkan modal mandiri mulai dari penyewaan kostum, rias make up dan keperluan sound system pada saat latihan. Sanggar yang bertempat di rumahnya sering melakukan latihan di rumahnya yang bertempat di Sukadana, terkadang Aprizal juga mengajak anak didiknya untuk latihan di rumah sesat yang ada di Sukadana Lampung Timur sebagai permberdayaan rumah sesat sebagai pusat kebudayaan di daerah Sukadana Lampung Timur.


Beliau mengharapkan sanggar didikannya ini bisa berkembang lebih pesat lagi, anak didiknya lebih berkembang lagi agar sanggarnya lebih dikenal ke luar daerah dan mendapat perhatian dari Dinas kebudayaan agar dapat dikembangkan lebih maju lagi.
Rantau Jaya Udik, Sukadana, Lampung Timur.
Colaborator
Penulis Artikel: M Danil Prayoga
Editor: M Adita Putra





















Discussion about this post