Lampung – Blangikhan merupakan tradisi menyucikan diri dengan mandi bersama di sungai sebelum menyambut Bulan Suci Ramadhan. Tradisi unik yang biasa dilakukan masyarakat Lampung ini mengandung filosofi tentang penyucian diri, membersihkan diri dari segala macam kotoran baik jasmani maupun rohani, agar mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik dan lancar. Blangikhan ini budaya turun temurun yang diwariskan oleh leluhur, dan banyak pelajaran berharga bagi masyarakat Lampung.

Dalam Bahasa Lampung dinamakan Blangikhan, sedangkan dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan Belangiran, berasal dari kata langir yang berarti mandi. Mandi yang dimaksud bukanlah mandi-mandi biasa pada umumnya menelainkan terdapat tujuan khusus. Proses Belangiran ini biasanya dilakukan masyarakat bersama tokoh adat, pemuda-pemudi, hingga petinggi pemerintahan. Selain sebagai bentuk rasa syukur dalam menyambut dan memaknai datangnya bulan Ramadhan, tradisi Blangikhan Lampung juga bertujuan sebagai upaya untuk melestarikan sekaligus melindungi budaya Daerah Lampung agar tidak dimakan zaman serta punah dengan seiring perkembangan zaman menuju ke arah yang modern.

Air langir merupakan air yang diambil dari tujuh sungai (mata air) yang berbeda yang dicampur menggunakan bunga tujuh rupa, daun pandan dan sedikit setanggi. Air ini kemudian dikumpulkan dalam satu lokasi yang diletakkan di dalam kendi pada siang hari oleh para mekhanai. Pada malam harinya muli dan mekhanai mengolah bahan-bahan untuk prosesi belangiran. Keesokkan harinya barulah air langir digunakan untuk kegiatan blangikhan. Di luar acara yang dihelat pemerintah, secara individual atau berkelompok, warga Lampung juga melaksanakan tradisi ini sejak beberapa hari menjelang Bulan Ramadhan hingga sehari menjelang mulainya ibadah puasa.

Kegiatan Blangikhan dimulai dengan ritual pembacaan doa. Setelah itu, puluhan peserta mandi bersama (muli mekhanai) berbaris rapih dengan membawa talam berisi air langir, tangkai padi, kembang setaman dan bakaran merang padi atau sekam. Usai membasuh wajah dan bagian anggota tubuh dengan Air tersebut, satu persatu muli mekhanai masuk ke dalam sungai untuk mandi bersama. Setelah proses mandi bersama selesai, acara dilanjutkan dengan menebar berupa ikan-ikan sebagai bentuk keberkahan dalam prosesi blangikhan dan dilanjutkan oleh cuak mengan atau makan bersama.

Selain sebagai upaya melestarikan budaya agar tidak lekang termakan zaman, kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan sektor pariwisata, serta sebagai proses pensucian hati dari rasa iri hati, benci, dendam, dan sombong dalam menjalankan ibadah puasa. Momen tahunan dari tradisi Blangikhan Lampung adalah wujud kepedulian masyarakat Lampung terhadap budaya warisan nenek moyang. Blangikhan ini juga budaya turun temurun yang diwariskan oleh leluhur, dan banyak pelajaran yang bisa didapatkan dari tradisi ini.
Colaborator
Penulis Artikel: M. Abid Rabbani
Editor: Ratih Purwaningsih














Discussion about this post