Kemerdekaan identik dengan kemudahan mengakses pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian. Namun di balik peringatan 81 tahun Indonesia merdeka, masih ada wilayah yang belum sepenuhnya merasakan kemudahan tersebut. Salah satunya adalah Way Haru, sebuah pekon di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Hingga tahun 2026, akses menuju kawasan ini masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Jalan permanen yang layak belum tersedia sehingga mobilitas warga masih bergantung pada kondisi alam.
Perjalanan Warga Masih Bergantung pada Air Laut

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bepergian menggunakan kendaraan sudah menjadi hal biasa. Berbeda dengan warga Way Haru yang masih harus menyesuaikan waktu perjalanan dengan pasang surut air laut. Saat air laut surut, warga biasanya memilih melintasi bibir pantai menggunakan sepeda motor karena jalur tersebut dinilai lebih memungkinkan dibandingkan jalan darat yang rusak. Sebaliknya, ketika ombak tinggi atau cuaca sedang buruk, mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu hingga kondisi kembali memungkinkan untuk melintas. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga mengangkut kebutuhan pokok, tidak bisa dilakukan dengan bebas seperti di daerah lain.
Sulitnya Mendapatkan Layanan Kesehatan

Akses kesehatan menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan masyarakat Way Haru. Ketika ada warga yang membutuhkan penanganan medis, ambulans tidak dapat menjangkau permukiman karena keterbatasan akses jalan. Dalam sejumlah kondisi, pasien bahkan harus ditandu berjalan kaki menempuh perjalanan belasan kilometer melewati pantai dan jalan setapak menuju fasilitas kesehatan terdekat. Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika kondisi pasien membutuhkan penanganan secepat mungkin.
Tujuh Muara Harus Dilalui, Lima Belum Memiliki Jembatan

Perjuangan warga tidak berhenti di situ. Untuk keluar dari kawasan Way Haru, mereka harus melewati tujuh muara. Ironisnya, lima dari tujuh muara tersebut hingga kini belum memiliki jembatan. Saat musim hujan datang, debit air meningkat dan banjir kerap memutus akses perjalanan. Akibatnya, mobilitas masyarakat menjadi semakin terbatas.
Memiliki Potensi Besar, Tetapi Terkendala Akses

Di balik sulitnya akses, Way Haru sebenarnya memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan. Wilayah ini memiliki hasil perkebunan, pertanian, hingga potensi wisata alam yang menarik. Namun keterbatasan infrastruktur membuat biaya distribusi hasil panen menjadi jauh lebih mahal. Akibatnya, sebagian nilai ekonomi yang seharusnya dinikmati masyarakat justru habis untuk biaya transportasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menghambat berkembangnya potensi daerah.
Harapan Akan Jalan Layak Masih Terus Disuarakan

Persoalan akses menuju kawasan Way Haru bukanlah isu baru. Selama bertahun-tahun, kebutuhan pembangunan jalan menuju empat pekon di kawasan tersebut telah beberapa kali menjadi perhatian publik. Meski berbagai harapan telah disampaikan, hingga tahun 2026 persoalan tersebut belum juga tuntas. Warga Way Haru masih menantikan hadirnya jalan yang layak agar aktivitas sehari-hari, layanan kesehatan, pendidikan, hingga roda perekonomian dapat berjalan lebih mudah. Di usia ke-81 Indonesia merdeka, kisah Way Haru menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang terus memperjuangkan akses dasar yang bagi banyak orang mungkin sudah dianggap biasa. Jalan yang layak bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga pintu menuju pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang lebih baik.









