Bandar Lampung – Kita ketahui bersama bahwa bumi merupakan satu-satunya planet yang dihuni oleh makhluk hidup. Bumi terdiri dari dua wilayah yaitu daratan dan juga perairan. Manusia sebagai makhluk hidup harus ikut berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Semakin tua keadaaan bumi kian mengkhawatirkan pemanasan global serta perubahan iklim menjadi isu utama yang terus digalakkan oleh penggiat lingkungan.
Tidak kalah mengkhawatirkan pula kondisi laut bumi yang mengalami krisis sampah, dapat ditemukan jika melihat ke pantai banyak sekali sampah menumpuk dan juga berserakan mengotori alam. Hal ini dialami pula oleh Dicky Dwi Alfandy Co-founder Gajahlah Kebersihan. Berawal dari keresahan melihat sampah yang mengotori pesisir Lampung saat menyelam pada tahun 2015, Dicky mulai tergugah untuk menumbuhkan kepedulian terhadap isu lingkungan. Terlebih lagi saat melihat dampak sampah yang juga mempengaruhi pendapatan nelayan di laut serta mengancam biota laut, Dicky pun semakin tergerak untuk menginisiasi suatu komunitas yang peduli terhadap lingkungan dan ekosistem pesisir pantai.
Komunitas tersebut bernama Gajahlah Kebersihan.
Minimnya informasi akan isu sampah laut membuat Dicky perlu belajar banyak tentang isu tersebut di Pulau Jawa dengan mengikuti berbagai summit, seminar, dan program lainnya sebagai bekal mendirikan suatu komunitas. Alumni Jurusan Biologi Universitas Lampung tersebut akhirnya bertemu dengan rekan – rekan lainnya pada acara Indonesian Youth Marine Debris Summit di Jakarta. Dengan semangat untuk membantu kelestarian lingkungan dan membawa dampak yang baik, mereka pun sepakat untuk mendirikan Gajahlah Kebersihan pada 28 Oktober 2017 yang bertepatan dengan hari sumpah pemuda.
Gajahlah Kebersihan awalnya hanya berfokus pada edukasi kepedulian lingkungan yang menargetkan kawula muda di Indonesia yang tergabung secara daring melalui grup WhatsApp. Melihat animo pemuda dan masyarakat yang terus meningkat akan isu lingkungan, Gajahlah Kebersihan mulai merambah ke aksi edukasi secara langsung ke sekolah, kafe, restoran hingga masyarakat umum di Lampung. Sampai saat ini Gajahlah Kebersihan berhasil mengedukasi masyarakat hingga 30.500 orang sejak tahun 2018.
Kehadiran Gajahlah Kebersihan membawa angin segar bagi penanganan isu sampah dan lingkungan di Lampung. Hal ini dapat tergambar dari datangnya berbagai dukungan dari banyak pihak seperti masyarakat, perusahaan, hingga pemerintah. Pada 2021, Gajahlah Kebersihan terdaftar secara sah dan legal dengan nama Yayasan Inovasi Sosial Berkelanjutan.
Kini, Gajahlah Kebersihan kian berkembang hingga ke pemberdayaan masyarakat pesisir pantai dengan mengajak 175 masyarakat lokal melalui berbagai program yang dirancang berlandaskan masalah yang sering masyarakat hadapi. Program yang dijalankan juga membuka peluang ekonomi baru yang ramah lingkungan dan berkelanjutan sekaligus mengentaskan permasalahan sampah laut di Pulau Pasaran, Bandar Lampung.
Terus berdampak dengan dua program unggulan
Pasaran Wawai: Program komprehensif yang menitikberatkan fokus dalam pengolahan sampah di Pulau Pasaran mulai dari pengumpulan menggunakan wadah sampah komunal, pengolahan sampah menjadi bahan bangunan dan kerajinan daur ulang, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir yang dapat mendulang rupiah.
Lampung Youth Ecopreneur Summit: Program pemberdayaan dan wadah bagi pemuda Lampung untuk menjadi wirausaha lingkungan (ecopreneurs) yang dapat menyelesaikan berbagai masalah sampah di lintas sektor.
Bersama Gajahlah Kebersihan, Dicky menerima berbagai penghargaan yang ditujukan kepada aktivis lingkungan oleh berbagai institusi maupun perusahaan bergengsi, antara lain:
- IIEF Alumni Impact Awards oleh IIE Foundation, di Jakarta (2023)
- National Geographic Young Explorer oleh National Geographic Global, Jeju, Korea Selatan (2022)
- YSEALI Academic Fellowship oleh Kedutaan Amerika, Hawaii, USA (2022)
- One Young World Ambassador oleh Audi Environmental Foundation, Manchester, Inggris (2022)
- Unilever Every U Does Good Heroes oleh Unilever Indonesia, Jakarta (2022)
- AVPN Young Impact Leader oleh Asia Venture and Philanthropy Network (AVPN), Bali (2022)
- Duta Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih oleh Kemenpora, Bogor (2019)
- ASEAN Youth Sustainability Camp oleh Kementerian Lingkungan Hidup Thailand, Pattaya, Thailand (2018)
- Cargill Global Scholar on Sustainability oleh Cargill, Amsterdam, Belanda (2018)
- Delegasi YSEALI SEA Camp oleh Save Philippines Seas, Palawan, Filipina (2017)
Lampung masih butuh lebih banyak pemuda yang inspiratif seperti Dicky. Abis ini mau bahas siapa lagi ya sekelik?














Discussion about this post