Lampung Selatan – Gunung Krakatau merupakan gunung yang berada di Provinsi Lampung tepatnya di Selat Sunda. Gunung ini menjadi salah satu gunung purba yang pernah meletus dahsyat tercatat pada tahun 1883. Sejak saat itu, gunung ini dikenal dunia karena letusannya yang sangat dahsyat. Letasan gunung tersebut memakan korban dengan jumlah sekitar 36.000 korban jiwa dan daya ledak yang diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hirosima dan Nagasaki.
Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat Gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat membentuk suatu kaldera atau kawah besar yang disebut dengan Gunung Krakatau Purba. Ini menjadi sejarah awal mula meletusnya Gunung Krakatau dan terbentuknya Gunung Anak Krakatau.

Berikut ini informasi mengenai sejarah Gunung Krakatau yang pada akhirnya melahirkan Gunung Anak Krakatau :
1. Asal usul Gunung Krakatau
Asal usul Gunung Krakatau muncul dari sejarah Pulau Rakata yang merupakan satu dari 3 pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh dengan dorongan proses vulkanik yang ada di dalam bumi yang dikenal sebagai dengan Gunung Krakatau atau Gunung Rakata yang terbentuk dari batuan basaltik. Kemudian dua gunung api muncul dari tengah kawah. Gunung tersebut adalah Gunung Danan dan Gunung Perbuatan yang menyatu dengan Gunung Rakata yang sudah terbentuk terlebih dahulu. Komplek tiga gunung api ini yang disebut dengan Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau sebelum erupsi
Gunung Krakatau setelah erupsi
Dalam sejarahnya, Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 yang menghasilkan lava andesitik bersifat asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuatan mengalami aktivitas vulkanik namun tidak menghasilkan letusan besar. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis hingga tahun 1883, di mana setelah sekitar 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau, hal tersebut menjadi tanda-tanda awal terjadinya bencana letusan dahsyat. Ledakan kecil tersebut disusul oleh letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada tanggal 26-27 Agustus 1883.
2. Erupsi Krakatau Tahun 1883
Tepat pukul 10:20 WIB pada hari senin tanggal 27 Agustus 1883, terjadilah puncak ledakan besar Gunung Krakatau. Menurut Simon Winchester seorang ahli geologi asal Universitas Oxford, ledakan tersebut merupakan ledakan paling besar, suara ledakan yang paling keras dan paling meluluh lantahkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusan terdengar sampai dengan jarak 4600 km dari pusat letusan dan bahkan suara letusan tersebut terdengar oleh 1/8 penduduk di bumi pada masa tersebut.

Penelitian University Of North Dakota menjelaskan bahwa ledakan Gunung Krakatau tahun 1883 dengan Gunung Tambora pada tahun 1815 mencatat nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern.
Letusan Krakatau telah menghempaskan material vulkanik dengan volume sekitar 18 km kubik, semburan debu vulkanik mencapai 28 km. Material-material vulkanis tersebut jatuh di dataran Pulau Jawa dan Sumatera, bahkan mencapai India, Pakistan, Srilanka, dan Australia.

Dari letusan tersebut juga menghancurkan Gunung Danan dan Gunung perbuatan, serta menghancurkan setengah kerucut Gunung Rakata dan membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 m. Akibat dari letusan tersebut juga terjadi peristiwa tsunami yang menghancurkan seluruh daerah pantai. Kemudian setelah peristiwa tersebut, keesokan harinya hingga beberapa hari kemudian penduduk disekitar Jakarta hingga Lampung tidak lagi melihat matahari. Dari peristiwa ini, tercatat korban jiwa sekitar 36.417 korban jiwa, dan mungkin saja lebih, karena mengingat perkembangan teknologi pada masa tersebut yang masih terbatas.
3. Lahirnya Gunung Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau lahir pada tahun 1927. Gunung Anak Krakatau ini lahir dari kaldera purba Gunung Krakatau yang masih aktif. Gunung Anak Krakatau mengalami pertumbuhan yang cukup cepat, yaitu mencapai 4 meter per tahun. Pertumbuhan ini disebabkan oleh material yang keluar akibat dari aktivitas vulkanik gunung tersebut. Hingga tercatat pada tahun 2017 ketinggian Gunung Anak Krakatau mencapai 230 mdpl.
4. Erupsi Gunung Anak Krakatau
Tercatat pada akhir tahun 2018 hingga tahun 2019, Gunung Anak Krakatau mengalamai serangkaian erupsi hingga akibat dari erupsi ini sekitar 64 hektar area Gunung Anak Krakatau mengalami longsor dan mengakibatkan terbentuknya gelombang tsunami hingga menuju ke pesisir Banten dan Lampung Selatan. Tsunami ini juga mengakibatkan korban jiwa dan juga meluluh lantakkan sebagian pesisir di Selatan Lampung dan juga Banten.
Setelah mengalami erupsi yang cukup lama, pada akhirnya Gunung Anak Krakatau mengalami penyusutan bahkan ketinggiannya hanya sekitar 110 m. Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau terpantau masih mengalami aktifitas dan tercatat pada bulan Agustus 2020 ketinggian Gunung Anak Krakatau telah mencapai 150 m ditambah dengan tumbuhnya daratan baru yang terbentuk dari tumpukan material vilkanik yang keluar dari Gunung Anak Krakatau.

Hingga saat ini, peneliti masih melakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik vulkanisme dari Gunung Anak Krakatau. Banyak peneliti yang mengatakan bahwa jika karakteristik vulkanik Gunung Anak Krakatau mirip dengan proses vulkanisme Gunung Krakatau, maka tidak menutup kemungkinan dimasa yang akan datang akan terjadi letusan dahsyat. Namun beberapa peneliti juga mengatakan, karena aktivitas vulkanisme yang intens, menyebabkan Gunung Anak Krakatau memiliki potensi bencana yang lebih rendah dibandingkan dengan akibat dari erupsi Gunung Krakatau pada masa lalu.
Colaborator
Penulis Artikel: Hana Yudi Perkasa
Editor: Ratih Purwaningsih















Discussion about this post