Bandar Lampung – Limbah sampah merupakan salah satu permasalahan yang serius di Indonesia. Semakin padatnya jumlah penduduk, maka sampah semakin menumpuk karena ruang yang disediakan untuk menampung sampah rumah tangga kurang. Hal inilah yang menjadi latar belakang Agus Solihin mendirikan Bank Sampah Emak.id. Bermula dari pengalamannya melihat 800 sampai 1000 ton sampah yang masuk ke TPA Bakung setiap harinya, sampah terlihat menggunung dan bau yang sangat tidak sedap.
TPA Bakung merupakan tempat pembuangan akhir di Bandar Lampung yang kini kondisinya semakin mengkhawatirkan. Tempat sampah yang menumpuk dapat menimbulkan banyak penyakit, menjadi sarang serangga dan tikus, pencemaran tanah, air, dan udara serta menjadi tempat hidup kuman merugikan masyarakat yang tinggal dekat lokasi TPA.
Hal ini membuat Agus berinisiatif memulai gerakan bank sampah. Masih kurangnya pengertian dari masyarakat memilah dan memilh sampah dapur yang mereka gunakan juga merupakan salah satu penyebab sampah menumpuk. Agus dalam mendirikan Bank Sampah memiliki fokus untuk membimbing ibu rumah tangga sebagai sasaran agar dapat menyaring sampah yang masih bisa diolah dari level rumah tangga. Bank Sampah Emak.Id berharap emak-emak yang mereka bimbing bisa menerapkan pengolahan sampah berdasarkan sifatnya yaitu sampah organik dan sampah anorganik serta bentuknya mulai dari padat dan cair.
Melihat respon yang baik dari banyak emak emak di Bandar Lampung, Agus semakin melebarkan dampak ke Natar, Lampung Selatan dan Pesawaran. Berdiri sejak 28 April 2021, Bank Sampah Emak.id kini memiliki 5100 nasabah yang secara rutin mengumpulkan sampah high value dari rumah setiap bulannya untuk ditukarkan menjadi rupiah.
Bersama berbagai program unggulannya, Bank Sampah Emak.id dapat menyelesaikan masalah lintas sektor seperti lingkungan melalui terfilternya sampah yang memiliki nilai, ekonomi melalui harga tukar sampah untuk pemasukan tambahan, sosial melalui budaya pilah sampah yang mendukung kehidupan yang berkelanjutan dan kepedulian antar nasabah melalui program emak.id peduli, hingga pendidikan melalui program Berkah (Belajar Tukar Sampah) yang memungkinkan edukasi anak 5-10 tahun dengan hanya menukar sampah.
Lampung masih butuh lebih banyak pemuda yang serius dalam menyelesaikan urusan lingkungan seperti Agus. Bahas siapa lagi nih sekelik?













Discussion about this post