Pringsewu – Sekiranya ada kurang lebih 1.340 suku bangsa dan 710 bahasa di Tanah Air menurut sensus BPS tahun 2010 sehingga, menjadi bukti bahwa Indonesia memang layak disebut-sebut menjadi satu dari sekian negara dengan kekayaan etnis terbanyak di dunia. Namun, melihat kondisi penduduk yang sangat heterogen tersebut tidak menghalangi masyarakat untuk dapat hidup rukun dan saling menghormati juga menjaga warisan budaya satu sama lain. Salah satu agama yang juga tidak terlepas dari warisan budaya Indonesia adalah Agama Hindu.
Jika kita melihat “Pura” yang terlintas di benak seseorang adalah sebuah tempat ibadah bagi umat beragama Hindu. Pernahkah melihat dan menemukan sebuah Pura yang letaknya di atas bukit ? Mungkin pernah melihat tetapi letaknya jauh di luar Provinsi Lampung, bisa dikatakan yang terbanyak terletak di Provinsi Bali. Namun siapa sangka bahwa daerah Kabupaten Pringsewu ternyata juga mempunyai Pura yang letaknya tepat di atas bukit. Jika penasaran dengan namanya, Pura tersebut dikenal sebagai “Pura Giri Sutra Mandala” yang merupakan objek wisata religi umat Hindu yang letaknya tepat di atas bukit Dusun Banjarejo, Pekon Mataram, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.
Jika mengunjungi Pura tersebut masyarakat akan disambut dengan keelokan gapura dengan ukiran khas tradisi Hindu-Bali yang sekaligus diartikan sebagai pintu gerbang antara wilayah luar dengan wilayah tempat suci tersebut. Kemudian dari kejauhan juga terlihat banyak anak tangga berwarna biru langit di tengah yang menjulang ke atas bukit sebagai akses jalan menuju Pura yang terlihat megah dan tinggi saat dilihat dari lereng bukit tersebut bersama dengan ornamen-ornamen ukiran khasnya yang berpadu padan dengan warna merah, emas, dan hijau.
Agama Hindu memang memiliki ciri khas sebagai salah satu agama yang paling toleran, karena sifatnya yang universal, dan tidak adanya skisma meskipun terdapat kemajemukan tradisi yang bernaung di bawah simbol-simbol Agama Hindu. Maka tidak heran, jika kita masih melihat unsur-unsur tradisi dan budaya yang juga kental di dalamnya.

Sesuai dengan namanya, Bu Sukempi yang merupakan guru AAgama Hindu di Dusun Banjarejo sekaligus menjadi salah satu pengurus dari Pura tersebut menjelaskan bahwa Giri berarti dibangun di atas gunung yang tinggi, sedangkan Mandala artinya adalah bangunan tempat suci yang berada di gunung. Kemudian nama Sutra sendiri dimaksudkan untuk menyucikan diri seperti layaknya kain sutra. Bu Sukempi juga mengatakan bahwa Pura tersebut sudah ada sejak tahun 1975 dan di dalam kompleksnya terdapat beberapa bangunan yaitu Padmasana sebagai simbol kedudukan Hyang Widhi Wasa yang juga berfungsi untuk menaruh sesaji, Paduraksa yang bentuknya seperti gapura disertai atap namun terdapat pintu yang tertutup di tengah dan hanya dibukakan untuk tokoh agama atau dalam upacara tertentu saja, kemudian ada balai Santi yang fungsinya sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai tempat kegiatan bersosial, seperti sarana untuk bermusyawarah umat.

Saat ini Pura Giri Sutra Mandala juga cukup banyak dikenal oleh masyarakat Pringsewu. Meskipun sempat tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah setempat namun saat ini Pura tersebut sudah sering dikunjungi oleh pemerintah dan sangat diperhatikan dimulai dengan memperbaiki akses jalan agar mudah ditempuh oleh masyarakat, serta pemberian tanaman. Sehingga sampai saat ini banyak pengunjung Umat Hindu yang berwisata religi ke tempat itu tujuan Tirtayatra, baik itu dari daerah sekitar maupun dari luar daerah. Khusus untuk pengunjung Umat Hindu ada beberapa syarat yang tidak dibolehkan di antaranya larangan orang sedang haid/datang bulan, salah satu keluarganya yang meninggal dunia belum sempat disucikan.

Kemudian Pengunjung dari masyarakat umum pun banyak juga yang berkunjung untuk sekedar menambah pengetahuan atau sekedar hanya berfoto selfie tanpa dikenakan tarif tertentu hanya disediakan sebuah kotak untuk amal sukarela dan asalkan dapat saling merawat dan saling menjaga tempat suci tersebut. Serta untuk masyarakat umum juga harus memperhatikan larangannya dan harus dipatuhi saat berkunjung ke Pura Giri Sutra Mandala, yaitu tidak boleh memasuki mandala utama, artinya pengunjung hanya sampai batas Paduraksa, tidak boleh pakai alas kaki, harus berpakaian bersih atau memakai adab persembahyangan.
Letak Pura Giri Sutra Mandala tidak jauh dari objek wisata yang ada di sekitar nya yaitu sebelum Tegal Pujorahayu dan Telaga Gupit . Akses jalan yang di tempuh sangat mudah mengingat jalan yang tersedia cukup bagus. Akses dari kota Bandar Lampung memakan waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke tempat tujuan. Dari jalan utama tepatnya dari Tugu Gajah, Bulokarato, sekitar 7 kilo meter dan dari tugu eks ABC hanya sekitar 5 kilometer. Kemudian dari Pekon Tegalsari sampai ke Mataram dapat ditempuh sekitar 300 meter.
Dusun Banjarejo, Pekon Mataram, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu
Colaborator
Penulis Artikel: Agustina Suryati
Editor: M Adita Putra













Discussion about this post