Pesawaran – Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang dianugerahi wilayah luas dan kekayaan alam yang indah. Tak hanya itu, Lampung juga memiliki suku adat yang beragam.
Sejarah dulunya provinsi paling selatan di Pulau Sumatera ini pernah menjadi daerah penempatan transmigrasi pertama di Indonesia. Pada tahun 1905, pemerintah Hindia Belanda melakukan perpindahan warga dari Desa Bagelen Karesidenan Kedu (Jawa Tengah) ke Kecamatan Gedong Tataan, (Lampung).
Museum Nasional Ketransmigrasian atau bisa disingkat MNK adalah salah satu museum nasional yang mendokumentasikan catatan sejarah tentang keberhasilan proses transmigrasi di Indonesia yang terletak di Provinsi Lampung. Museum ini merupakan museum transmigrasi pertama dan yang satu-satunya yang ada di dunia. MNK tepatnya terletak di Jalan Ahmad Yani, Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran. MNK dibangun karena alasan historis.

Tampak depan gedung MNK | Foto : Evi Indrawanto
Museum Nasional Ketransmigrasian didirikan pada 12 Desember 2004 serta dibangun dengan luas 63 hektare dan terdapat 3 lantai. Di museum ini juga terdapat kolam renang, sentra kerajinan, panggung terbuka, 10 anjungan rumat adat dari daerah asal transmigran, perpustakaan, mushola, tempat parkir, lapangan, areal persawahan, dan masih ada lagi.
Pembangunan MNK bertujuan untuk menyediakan sarana dan prasarana bagi pengkajian program transmigrasi di Indonesia. Museum ini juga bertujuan untuk menyediakan wahana pembelajaran tentang sejarah ketransmigrasian di Indonesia bagi generasi muda. MNK memiliki lebih dari 254 koleksi. Koleksi di dalam museum ini di antaranya adalah alat pertukangan, alat rumah tangga, alat pertanian, peralatan dapur, alat kesenian, alat penangkap ikan, foto-foto dokumentasi, pakaian adat dan musik Bali, dan masih banyak lagi.

Bukti peralatan dapur di MNK | Foto : Museum Nasional Ketransmigrasian Lampung
Suasana klasik terasa saat kita melangkahkan kaki ke dalam museum. Tepat di tengah ruangan, ada patung dua lembu menarik luku (alat pembajak sawah tradisional) dan gerobak kayu di sampingnya. Ini merupakan simbol profesi transmigran yang mayoritas adalah petani.
Di lantai satu terdapat beberapa ruangan koleksi yang berisi seperangkat gamelan dan wayang golek. Bersebelahan dengan ruang gamelan, tersedia perpustakaan yang dilengkapi beberapa komputer dan buku sejarah. Ada pula ruangan yang memamerkan furnitur tempo dulu berupa meja tamu, lemari, dan juga tempat tidur terbuat dari besi.
Satu ruangan yang tak boleh dilewatkan di lantai satu adalah ruang auditorium yang ditata baik seperti di bioskop untuk menikmati film dokumenter sejarah transmigrasi di Indonesia. Ruangan ini dilengkapi tempat duduk nyaman dengan kapasitas 80 orang.

Sepeda ontel di dalam museum | Foto : Rizkybara
Lalu berpindah ke lantai dua, terdapat deretan benda antik seperti sepeda ontel, peralatan dapur, perabot rumah tangga, alat penerangan, dan mata uang tempo dulu.
Tersedia paket Rp 5.000/siswa (tiket masuk + nonton film dokumenter), Rp 3.500 (tiket masuk+bimbingan edukasi sejarah), dan Rp 7.500 (tiket masuk + nonton film dokumenter + bimbingan edukasi).
Jalan Jendral Ahmad Yani No.111, Sukaraja, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung
Colaborator
Penulis Artikel: M Abid Rabbani
Editor: M Adita Putra










Discussion about this post