Mengenal KH Ahmad Hanafiah: Pahlawan Kelahiran Sukadana Lampung Pada Masa Revolusi

 Mengenal KH Ahmad Hanafiah: Pahlawan Kelahiran Sukadana Lampung Pada Masa Revolusi

Patung KH Ahmad Hanafiah | foto : M Danil Prayoga

Lampung Timur- KH Ahmad Hanafiah lahir pada 1905 di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Tengah (dulu) yang sekarang dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Timur. KH Ahmad Hanafiah merupakan putra sulung KH Muhammad Nur, pimpinan Pondok Pesantren Istishodiyah Sukadana.

Beliau merupakan santri yang mengenyam pendidikan dari pesantren-pesantren yang ada di dalam negeri hingga luar negeri. KH Ahmad Hanafiah pernah belajar pendidikan di sekolah Guverment di Sukadana hingga lulus pada tahun 1916 dan dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Jamiatul Chair di Jakarta antara tahun 1916 dan 1919.

Hanafi Masputra keturunan biologis dari KH Ahmad Hanafiah | foto : M Danil Prayoga

Pada masa anak-anak, beliau belajar mengaji dengan orang tuanya sendiri yaitu KH Muhammad Nur yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Istishodiyah Sukadana. KH Muhammad Nur sendiri merupakan pendiri pondok pesantren pertama di seluruh Karesidenan Lampung. Di saat usia beliau baru lima tahun, baliau sudah khatam belajar ngaji dan membaca Al-quran.

Pada tahun1920-1925 mengabdi menjadi guru dan kemudian melanjutkan pendidikan keluar negeri. KH Ahmad Hanafiah pernah belajar di Pesantren Kelantan Malaysia pada 1925-1930, kemudian melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Makkah al-Mukarramah. Dalam perjalanan menuju Tanah Suci, dia singgah sebentar di India dan mendalami ilmu tarekat. Lalu pada 1930, ia baru sampai di Tanah Suci kemudian belajar kepada para ulama di Masjidil Haram hingga 1936 dan juga sempat mengajar di Masjidil Haram pada 1934-1936.

Sekembalinya ke Indonesia, KH Ahmad Hanafiah kemudian aktif sebagai da’i di Lampung. Pada 1937-1942, ia ditunjuk menjadi ketua Serikat Dagang Islam (SDI) di wilayah Kawedanan Sukadana. Sebagai ketua Serikat Dagang Islam (SDI), KH Ahmad Hanafiah ikut berjuang di ranah bisnis dengan membuka usaha. Dalam berbagai lini bisnis, ia turut membantu masyarakat dan para santrinya dan mengelola lembaga pendidikan pesantren yang meneruskan ayahnya.

foto dari keluarga KH Ahmad Hanafiah. No 1 dari kanan atas foto KH Ahmad Hanafiah No 2 dari kanan atas foto ayah (KH Ahmad Hanafiah) KH Muhammad Nur | foto : M Danil Prayoga

Dalam meneruskan pesantren ayahnya, beliau mengajarkan para santri Pondok Pesantren al-Ikhlas Sukadana, dengan ilmu-ilmu agama pada tahun 1942-1945. Dikarenakan aktivitasnya di SDI, dirinya pun kerap menjadi sasaran penguasa pada jaman pemerintah kolonial yang mengecap SDI sebagai organisasi yang membahayakan rezim saat itu.

Pada masa pendudukan Jepang, salah satu organisasi yang terbentuk adalah Laskar Hizbullah pada tahun 1944. Pada masa pendudukan Dai Nippon di Tanah Air, KH Ahmad Hanafiah diangkat menjadi anggota Sa-ingkai atau semacam anggota dewan daerah di Karesidenan Lampung. Dari sinilah bermula kiprahnya dalam dunia perpolitikan. Pada akhirnya, semangat jihad terus mendorongnya untuk berjuang dalam membebaskan Indonesia.

Dengan sifat kepemimpinan yang alim dan memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai agama. Semasa hidup beliau selama masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, ia selalu menentang setiap bentuk penjajahan. Dalam masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 1945, panglima Laskar Hizbullah ini sempat menjabat beberapa kali posisi penting di bidang politik dengan berupaya menjaga kedaulatan negeri dan berupaya melawan Belanda, agar  Belanda tidak menjajah lagi Indonesia.

Baca Juga  Memahami Arti Lambang Daerah Kabupaten Lampung Timur

Pada awal-awal kemerdekaan jauh sebelum pada tahun 1964 di saat Provinsi Lampung masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, kaum penjajah melancarkan serangan serentak di sejumlah titik strategis. Dalam Agresi Militer I terjadi pada 1947 di Sukadana Karesidenan Lampung, KH Ahmad  Hanafiah mempersiapkan diri dengan para pengikutnya untuk terjun langsung melakukan perlawanan terhadap Belanda. Saat itu, Belanda juga mulai menyerang Lampung, yang menjadi bagian inti Karesidenan Sumatera Selatan melalui jalur darat dari Palembang.

Dalam Agresi militer Belanda, memicu perlawanan laskar rakyat untuk bertempur bersama dengan TNI menggempur kekuatan Belanda dalam pertempuran di Kemarung. Daerah tersebut merupakan area hutan belukar yang terletak dekat Baturaja ke arah Martapura, Sumatera Selatan.

Pada saat akan melakukan perlawanan terhadap Balanda, TNI dan Laskar Hizbullah  yang hendak berencana menyerang Baturaja mendapati kendala dikarenakan informasi penyerangan menuju Baturaja bocor oleh mata-mata pihak Belanda yang membuat tentara Indonesia mundur ke Martapura.

Di saat pasukan Laskar Hizbullah yang tengah beristirahat di Kemarung, pasukan Hizbullah disergap oleh pihak Belanda. Di sanalah terjadi pertempuran hebat antara laskar rakyat melawan Belanda dengan perlawanan laskar rakyat tergabung dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah yang bersenjatakan golok atau yang disebut laskar golok.

Anggota laskar tersebut banyak yang gugur dan tertawan. KH Ahmad Hanafiah sendiri pun ditangkap hidup-hidup. Setelah berbagai penyiksaan dan introgasi oleh pihak Belanda KH Ahmad Hanafiah tidak mau membocorkan rahasia mengenai kekuatan militer tentara Indonesia yang membuat pihak Belanda murka dan masukkan beliau ke dalam karung lalu ditenggelamkan di Sungai Ogan. Akibat penyiksaan ini, beliau meninggal dunia dan hingga sekarang, jenazah atau pun kuburan sang pahlawan tidak diketahui.

KH Ahmad Hanafiah diyakini wafat pada tanggal 17 Agustus 1947 saat berjuang melawan penjajahan Belanda, tepatnya saat terjadinya Agresi Militer Belanda I yang terjadi di front Kamerung, Baturaja Sumatera Selatan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Patung KH Ahmad hanafiah di Sukadana | foto : M Danil Prayoga

Selama hidupnya, beliau memiliki banyak pengalaman. Di antaranya adalah, pernah menjadi ketua Partai Masyumi dan pimpinan Laskar Hizbullah Kewedanan Sukadana.Selain itu, Beliau juga pernah menjadi anggota DPR Karesidenan Lampung pada 1946-1947 dan jabatan lainnya adalah wakil kepala merangkap kepala bagian Islam pada kantor Jawatan Agama Karesidenan Lampung sejak awal 1947.

Tulisan di patung KH Ahmad hanafiah | foto : M Danil prayoga

Sebagai apresiasi dan mengenang jasa kepahlawanan beliau, Gubernur Lampung pun telah memberikan Piagam penghargaan kepada KH Ahmad Hanafiah dengan Surat Keputusan Gubernur Lampung Nomor: G/520/III.04/HK/2015, tanggal 2 November 2015. Pemerintah Kabupaten Lampung Timur pun membangun monumen patung KH Ahmad Hanafiah pada 2015 yang berdiri di ruas jalan utama Sukadana.

Colaborator

Penulis Artikel: M Danil Prayoga

Editor: Ratih Purwaningsih

M Danil Prayoga

M Danil Prayoga

never surender

Artikel menarik lainnya

Login Area

Selamat datang Kontributor Lampung Geh! Silakan Login untuk mulai menulis berita.